Rabu, 26 Agustus 2009

Review Film cin(T)a


cin(T)a adalah film independen produksi Sembilan Matahari, bercerita tentang 2 manusia dan satu tokoh bukan manusia, tokoh - tokoh itu adalah :
1. China
ini bukan SARA, nama karakternya emang china. Adalah seorang lelaki berdarah chinese dan batak, yang bersifat naif, optimis, dan tidak pernah gagal sekalipun dalam hidupnya
2. Annisa
adalah seorang perempuan yang pernah berprofesi sebagai artis, namun sedang hiatus selama 2 tahun. Annisa terkena stereotype bahwa artis = bodoh, murahan, sombong padahal sebaliknya Annisa adalah seorang perempuan yang pintar, baik hati, tidak sombong, dan rajin membaca
3. God/Tuhan/Allah
dari pandangan saya karakter Tuhan disini lebih bersifat antagonis, kenapa ? akan saya bahas nanti

first impression gw terhadap film ini ketika melihat trailernya adalah sebuah film drama biasa dengan dialog yang tajam dan tema yang tidak biasa (hubungan beda agama) namun itu semua berubah ketika gw melihat filmnya. Filmnya sendiri rada absurd dan unique, dikarenakan beberapa segi :

1. Minimnya karakter
ya, selain tiga karakter yang gw sebutin di atas, ga ada lagi karakter lain, kalaupun ada itu juga cuman jadi figuran dan line-nya sedikit
2. Breaking the Fourth Wall
Pada satu adegan, entah ini benar atau cuma gw yang sadar, karakter annisa seolah berbicara kepada penonton. Dan di adegan lain terlihat bahwa Annisa dan Cina menjadi bagian dari syuting film cin(T)a itu sendiri, padahal mereka tokoh utamanya (susah jelasinnya, nonton aja sendiri haha)
3. Timeline yang agak susah dimengerti
ini sih pendapat pribadi gw aja, menurut gw alur waktu di film ini agak2 kacau, kesannya kayak lompat dan banyak plothole, tapi sepertinya ini disengaja oleh pembuat film, mungkin tujuannya supaya penonton tetap fokus terhadap tiga karakter tersebut dan tidak ke-distract hal2 lain
4. Pengambilan Gambar
Hampir semuanya merupakan close - up China dan Annisa, argumen pembuat film sih katanya film ini kan bercerita tentang kisah asmara dua sejoli, jadi dia memilih pengambilan secara close up, karena saat pacaran dunia serasa milik berdua.

Kekuatan film ini ada pada dialog dan temanya. Dialog di film ini benar2 cerdas dan terkesan mengantagonisasi karakter Tuhan, seperti dialog "jadi arsitek itu berasa jadi Tuhan, berasa tau bagaimana rumah yang terbaik bagi klien, padahal kan yang tau rumah terbaik itu kan klien sendiri" dan masih banyak dialog2 lain yang tentunya gak bisa gw sebutin satu2 disini. Mengenai tema yaitu hubungan beda agama, adalah tema yang tidak umum di Indonesia, padahal banyak sekali orang - orang yang menjalani hubungan tersebut, mungkin ini juga lah yang menjadi magnet buat penonton

Gw saranin buat yang belom nonton film ini segeralah nonton, karena filmnya sendiri menurut gw informatif namun tidak berkesan menggurui, itu sendiri terserah penonton mau digurui sama film ini atau tidak....

nb : maaf kalo reviewnya nyampah, karena gw sendiri masih amatir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar